First Indonesia-China Coal Summit (ICCS) 19-20 maret 2013                      "Bagi BPPT, Reformasi Birokrasi merupakan perubahan mendasar, mendesak dan menjadi keharusan yang melibatkan seluruh pegawai"                      Penerimaan Pegawai BPPT 2012 - http://lowongan.bppt.go.id

TEKNOLOGI BPPT BANTU ANTISIPASI BANJIR JAKARTA (II)

TANGGAP BENCANA BANJIR DENGAN SIJAMPANG BPPT

Terkait dengan banjir yang terjadi di Ibukota DKI Jakarta sepekan kemarin, BPPT mencoba secara serius untuk memberikan informasi dalam upaya menyelamatkan masyarakat. “Jika kita berbicara mengenai banjir, maka yang kita perlu bicarakan adalah sumbernya, yaitu air hujan. Dan yang bisa mendeteksi air hujan adalah radar. BPPT saat ini telah memiliki dua unit radar hujan yang dipasang di Serpong Tangerang dan satu lagi bekerja mobile yang telah ditancapkan di Monas,” ungkap Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana BPPT, Udrekh.

BPPT telah mengembangkan Sistem Deteksi Dini (Early Detection System/EDS) berbasis radar cuaca yang dapat digunakan untuk mengantisipasi bencana banjir. EDS ini mengandalkan data radar cuaca sebagai informasi utama menghitung curah hukan yang terdapat pada wilayah sub Daerah Aliran Sungai tertentu.

Subdas yang telah masuk dalam perhitungan sistem adalah Katulampa, Depok, Manggarai, Sunter Utara untuk Ciliwung. Kemudian subdas Pesanggrahan (kali Pesanggrahan), Cipinang Hulu (kali Cipinang), serta subdas Cikeas dan Cileungsi (kali Bekasi). Sementara itu DAS Cisadane dan Ciujung akan menjadi pengembangan selanjutnya.

EDS menghitung Intensitas curah hujan yang terdapat pada wilayah Subdas kemudian menurunkannya menjadi volume CH dan menggambarkannya dalam sebuah grafik. Data yang digunakan adalah data real time dari radar cuaca yang terbarui setiap enam menit sekali. Data yang masuk langsung diproses untuk satu waktu tersebut, kemudian diplotkan pada grafik. Sebagai informasi tambahan, dimasukkan juga nilai Tinggi Muka Air (TMA) dari pintu air atau bendungan dari subdas yang bersangkutan. Dengan menampilkan kedua data ini bisa terlihat dengan jelas korelasi antara isian subdas dan peningkatan TMA pada waktu-waktu tertentu. Data TMA sampai saat ini didapat dari situs Pemda DKI Jakarta, sehingga data TMA bukanlah real time tetapi menyesuaikan dengan pembaruan data pada situs tersebut, walau pengambilan data dilakukan secara otomatis oleh sistem.

“Data korelasi tersebut kemudian menjadi salah satu masukan untuk mendeteksi banjir secara dini. Misalnya ketika hujan terjadi di Bogor dengan intensitas tinggi maka subdas Katulampa juga akan mengalami kenaikan TMA sekitar 2 jam kemudian. Dan jika pada waktu yang bersamaan subdas Depok juga mengalami hujan intensitas tinggi dan kenaikan TMA terjadi, maka dalam waktu beberapa jam saja subdas Manggarai diprediksi akan mengalami banjir,” ungkap Hartanto Sanjaya, Staf Bidang Karakterisasi PTISDA BPPT.

Udrekh menjelaskan teknologi EDS ini sangat berguna pada musim hujan seperti saat ini. Teknologi EDS berbasis radar cuaca ini dikembangkan agar masyarakat luas dapat mengetahui potensi bencana banjir dan cepat mengambil keputusan. Oleh karena itu, EDS ini telah diintegerasikan ke aplikasi Sistem Informasi Hujan dan Genangan Berbasis Keruangan (Sijampang).

Beberapa informasi yang dapat diperoleh masyarakat melalui aplikasi tersebut, yakni kondisi hujan terkini, prediksi cuaca, pergerakan awan, akumulasi hujan, dan titik banjir. Sijampang dapat diakses oleh masyarakat melalui berbagai platform, seperti website Sijampang di http://neonet.bppt.go.id/sijampang, akun Facebook http://bit.ly/fbsijampang dan juga melalui akun Twitter @infohujan. Bahkan Sijampang juga saat ini sudah tersedia bagi pengguna android. (SRRA/humas)

 


Newer news items:
Older news items:

Add comment


Security code
Refresh

JL. MH.Thamrin no.8 , Jakarta Pusat 10340